Cut Nyak Dhien dan Empat Jenderal Belanda yang Kalah di Tanah Aceh

Cut Nyak Dhien dan Empat Jenderal Belanda yang Gugur di Tanah Aceh

BANDA ACEH, LELEMUKU.COM – Nama Cut Nyak Dhien telah lama menjadi simbol perlawanan perempuan Nusantara terhadap penjajahan. Namun kisahnya tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gelombang perlawanan rakyat Provinsi Aceh yang menelan korban besar di pihak Belanda.

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang pada 26 Maret 1873. Kedatangan Jenderal J.H.R. Kohler dengan 3.198 pasukan, termasuk 168 perwira KNIL, tidak membuat rakyat Aceh gentar. Dukungan justru datang dari beberapa kerajaan lokal seperti Siak, Langkat, dan Deli.

Perlawanan rakyat Aceh tercatat sebagai yang paling merugikan Belanda sepanjang sejarah penjajahan Nusantara. Empat jenderal Belanda tewas dalam perang ini. Kuburan Kerkoff Peucut di Banda Aceh pernah mencatat rekor sebagai kuburan Belanda terluas di luar Negeri Belanda.

Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli dari Universitas Leiden yang berpura-pura masuk Islam, berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh. Ia kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil.

Pada 1898, Joannes Benedictus van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh. Bersama letnannya, Hendrikus Colijn, ia merebut sebagian besar wilayah Aceh. Sultan Muhammad Dawud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda pada 1903 setelah dua istrinya, anak, serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap. Kesultanan Aceh jatuh pada 1904.

Namun perlawanan tidak berhenti. Panglima-panglima di pedalaman dan para ulama Aceh terus melakukan perlawanan hingga Jepang masuk dan menggantikan peran Belanda. Di antara para pejuang itu, nama Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan perempuan yang gigih.

Selain kedua nama tersebut, Aceh juga melahirkan Laksamana Keumalahayati, seorang panglima perempuan yang memimpin pasukan laut Kesultanan Aceh. Dari kalangan pria, terdapat nama Sultan Iskandar Muda, Teungku Chik Di Tiro, Teuku Umar, Teuku Nyak Arif, dan Mr. Teuku Muhammad Hasan.

Perjuangan rakyat Aceh juga tercatat dalam dunia pendidikan dan diplomasi. Saat Volksraad atau parlemen dibentuk pada masa penjajahan, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. Ia kemudian dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Mr. Teuku Muhammad Hasan.

Saat Jepang mulai mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia, tokoh-tokoh pejuang Aceh mengirim utusan ke pemimpin perang Jepang. Negosiasi dimulai pada 1940. Pada 9 Februari 1942, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar, dan disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh bersama masyarakat.

Hingga kini, nama-nama pahlawan Aceh diabadikan dalam berbagai bentuk. Ada yang menjadi nama jalan, nama bandar udara seperti Bandar Udara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya, hingga nama kapal perang. Bagi generasi muda Aceh, kisah mereka bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan tidak pernah datang dengan sendirinya. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya

    © 2016- Lelemuku.com is owned by PT. Batlax.com.
    Affiliated with Voice of America, VOA Indonesia, Tempo, BenarNews, Teras.id, Reuters, DW and RT

    DMCA.com Protection Status Creative Commons License

    pembaca saat ini: 0