General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru


General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

Posted: 18 Feb 2020 02:56 PM PST

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia BaruWASHINGTON, LELEMUKU.COM - Keputusan General Motors (GM) untuk menarik diri dari Australia, Selandia Baru dan Thailand sebagai bagian dari strategi untuk keluar dari pasar yang tidak menghasilkan pengembalian investasi yang memadai, telah menimbulkan kekecewaan dari banyak pejabat yang khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (16/2), perusahaan itu mengatakan berencana menurunkan angka penjualan, operasi teknik dan desain untuk merk Holden yang bersejarah di Australia dan Selandia Baru pada tahun 2021. Perusahaan itu juga berencana menjual pabrik Rayong di Thailand pada Great Walls Motors China dan menarik merk Chevrolet dari Thailand pada akhir tahun ini.

"Ini merupakan keputusan yang sangat mengecewakan," ujar Karen Andrews, Menteri Urusan Industri, Sains dan Teknologi Australia. Ia mengatakan hal ini sangat disayangkan, tidak saja karena bakal ada sekitar 500 pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, tetapi juga karena "mereka hanya memberitahu pemerintah tentang keputusan ini tepat sebelum pengumuman perusahaan itu."

Dave Smith di Serikat Pekerja Manufaktur Australia juga menyampaikan kekecewaannya.

Para pekerja di Holden mengira "mereka telah melalui masa terburuk, padahal bukan itu masalahnya," ujar Smith.

"Bagi sebagian besar pekerja yang sudah lama dan setia pada perusahaan itu, mereka senang menjadi bagian dari industri mobil itu, dan kini merk mobil yang ikonik itu akan segera berakhir, dan ini berarti mereka kehilangan pekerjaan," tambahnya.

General Motors mempekerjakan 828 orang di Australia dan Selandia Baru, dan sekitar 1.500 lainnya di Thailand.

Di Thailand, keputusan menjual pabrik di Rayong, yang terletak di selatan Bangkok, mungkin akan menjadi kabar baik bagi pekerja di sana.

Great Wall Motors, pabrik pembuat mobil jenis pickup dan SUV, mengatakan berniat memperluas operasinya di Asia Tenggara dengan menggunakan pabrik di Thailand sebagai markas utama. "Kami juga akan mempromosikan pengembangan rantai pasokan lokal, penelitian dan pengembangan, serta industri-industri terkait, serta memberikan lebih banyak kontribusi pada pemerintah lokal di Rayong dan sekaligus pemerintah Thailand," demikian ujar Wakil Presiden Great Wall Untuk Urusan Strategi Global, Liu Xiangshang.

Thailand masih bertekad untuk menjadi "Detroit Asia," ujar juru bicara Kementerian Industri Krichanont Iyapunya. Ditambahkannya, penutupan dan pembukaan pabrik-pabrik itu berlangsung secara hampir bersamaan. "Industri otomotif harus dapat beradaptasi," ujar Krishanont.

Sepanjang tahun lalu General Motors telah berjuang keras di Asia. Operasi internasionalnya, yang mencakup China, telah merugi hingga 200 juta dolar tahun lalu, termasuk 100 juta dolar pada kwartal keempat lalu. (VOA)

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

Posted: 18 Feb 2020 02:56 PM PST

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia BaruWASHINGTON, LELEMUKU.COM - Keputusan General Motors (GM) untuk menarik diri dari Australia, Selandia Baru dan Thailand sebagai bagian dari strategi untuk keluar dari pasar yang tidak menghasilkan pengembalian investasi yang memadai, telah menimbulkan kekecewaan dari banyak pejabat yang khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (16/2), perusahaan itu mengatakan berencana menurunkan angka penjualan, operasi teknik dan desain untuk merk Holden yang bersejarah di Australia dan Selandia Baru pada tahun 2021. Perusahaan itu juga berencana menjual pabrik Rayong di Thailand pada Great Walls Motors China dan menarik merk Chevrolet dari Thailand pada akhir tahun ini.

"Ini merupakan keputusan yang sangat mengecewakan," ujar Karen Andrews, Menteri Urusan Industri, Sains dan Teknologi Australia. Ia mengatakan hal ini sangat disayangkan, tidak saja karena bakal ada sekitar 500 pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, tetapi juga karena "mereka hanya memberitahu pemerintah tentang keputusan ini tepat sebelum pengumuman perusahaan itu."

Dave Smith di Serikat Pekerja Manufaktur Australia juga menyampaikan kekecewaannya.

Para pekerja di Holden mengira "mereka telah melalui masa terburuk, padahal bukan itu masalahnya," ujar Smith.

"Bagi sebagian besar pekerja yang sudah lama dan setia pada perusahaan itu, mereka senang menjadi bagian dari industri mobil itu, dan kini merk mobil yang ikonik itu akan segera berakhir, dan ini berarti mereka kehilangan pekerjaan," tambahnya.

General Motors mempekerjakan 828 orang di Australia dan Selandia Baru, dan sekitar 1.500 lainnya di Thailand.

Di Thailand, keputusan menjual pabrik di Rayong, yang terletak di selatan Bangkok, mungkin akan menjadi kabar baik bagi pekerja di sana.

Great Wall Motors, pabrik pembuat mobil jenis pickup dan SUV, mengatakan berniat memperluas operasinya di Asia Tenggara dengan menggunakan pabrik di Thailand sebagai markas utama. "Kami juga akan mempromosikan pengembangan rantai pasokan lokal, penelitian dan pengembangan, serta industri-industri terkait, serta memberikan lebih banyak kontribusi pada pemerintah lokal di Rayong dan sekaligus pemerintah Thailand," demikian ujar Wakil Presiden Great Wall Untuk Urusan Strategi Global, Liu Xiangshang.

Thailand masih bertekad untuk menjadi "Detroit Asia," ujar juru bicara Kementerian Industri Krichanont Iyapunya. Ditambahkannya, penutupan dan pembukaan pabrik-pabrik itu berlangsung secara hampir bersamaan. "Industri otomotif harus dapat beradaptasi," ujar Krishanont.

Sepanjang tahun lalu General Motors telah berjuang keras di Asia. Operasi internasionalnya, yang mencakup China, telah merugi hingga 200 juta dolar tahun lalu, termasuk 100 juta dolar pada kwartal keempat lalu. (VOA)

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

Posted: 18 Feb 2020 02:56 PM PST

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia BaruWASHINGTON, LELEMUKU.COM - Keputusan General Motors (GM) untuk menarik diri dari Australia, Selandia Baru dan Thailand sebagai bagian dari strategi untuk keluar dari pasar yang tidak menghasilkan pengembalian investasi yang memadai, telah menimbulkan kekecewaan dari banyak pejabat yang khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (16/2), perusahaan itu mengatakan berencana menurunkan angka penjualan, operasi teknik dan desain untuk merk Holden yang bersejarah di Australia dan Selandia Baru pada tahun 2021. Perusahaan itu juga berencana menjual pabrik Rayong di Thailand pada Great Walls Motors China dan menarik merk Chevrolet dari Thailand pada akhir tahun ini.

"Ini merupakan keputusan yang sangat mengecewakan," ujar Karen Andrews, Menteri Urusan Industri, Sains dan Teknologi Australia. Ia mengatakan hal ini sangat disayangkan, tidak saja karena bakal ada sekitar 500 pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, tetapi juga karena "mereka hanya memberitahu pemerintah tentang keputusan ini tepat sebelum pengumuman perusahaan itu."

Dave Smith di Serikat Pekerja Manufaktur Australia juga menyampaikan kekecewaannya.

Para pekerja di Holden mengira "mereka telah melalui masa terburuk, padahal bukan itu masalahnya," ujar Smith.

"Bagi sebagian besar pekerja yang sudah lama dan setia pada perusahaan itu, mereka senang menjadi bagian dari industri mobil itu, dan kini merk mobil yang ikonik itu akan segera berakhir, dan ini berarti mereka kehilangan pekerjaan," tambahnya.

General Motors mempekerjakan 828 orang di Australia dan Selandia Baru, dan sekitar 1.500 lainnya di Thailand.

Di Thailand, keputusan menjual pabrik di Rayong, yang terletak di selatan Bangkok, mungkin akan menjadi kabar baik bagi pekerja di sana.

Great Wall Motors, pabrik pembuat mobil jenis pickup dan SUV, mengatakan berniat memperluas operasinya di Asia Tenggara dengan menggunakan pabrik di Thailand sebagai markas utama. "Kami juga akan mempromosikan pengembangan rantai pasokan lokal, penelitian dan pengembangan, serta industri-industri terkait, serta memberikan lebih banyak kontribusi pada pemerintah lokal di Rayong dan sekaligus pemerintah Thailand," demikian ujar Wakil Presiden Great Wall Untuk Urusan Strategi Global, Liu Xiangshang.

Thailand masih bertekad untuk menjadi "Detroit Asia," ujar juru bicara Kementerian Industri Krichanont Iyapunya. Ditambahkannya, penutupan dan pembukaan pabrik-pabrik itu berlangsung secara hampir bersamaan. "Industri otomotif harus dapat beradaptasi," ujar Krishanont.

Sepanjang tahun lalu General Motors telah berjuang keras di Asia. Operasi internasionalnya, yang mencakup China, telah merugi hingga 200 juta dolar tahun lalu, termasuk 100 juta dolar pada kwartal keempat lalu. (VOA)

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

Posted: 18 Feb 2020 02:56 PM PST

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia BaruWASHINGTON, LELEMUKU.COM - Keputusan General Motors (GM) untuk menarik diri dari Australia, Selandia Baru dan Thailand sebagai bagian dari strategi untuk keluar dari pasar yang tidak menghasilkan pengembalian investasi yang memadai, telah menimbulkan kekecewaan dari banyak pejabat yang khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (16/2), perusahaan itu mengatakan berencana menurunkan angka penjualan, operasi teknik dan desain untuk merk Holden yang bersejarah di Australia dan Selandia Baru pada tahun 2021. Perusahaan itu juga berencana menjual pabrik Rayong di Thailand pada Great Walls Motors China dan menarik merk Chevrolet dari Thailand pada akhir tahun ini.

"Ini merupakan keputusan yang sangat mengecewakan," ujar Karen Andrews, Menteri Urusan Industri, Sains dan Teknologi Australia. Ia mengatakan hal ini sangat disayangkan, tidak saja karena bakal ada sekitar 500 pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, tetapi juga karena "mereka hanya memberitahu pemerintah tentang keputusan ini tepat sebelum pengumuman perusahaan itu."

Dave Smith di Serikat Pekerja Manufaktur Australia juga menyampaikan kekecewaannya.

Para pekerja di Holden mengira "mereka telah melalui masa terburuk, padahal bukan itu masalahnya," ujar Smith.

"Bagi sebagian besar pekerja yang sudah lama dan setia pada perusahaan itu, mereka senang menjadi bagian dari industri mobil itu, dan kini merk mobil yang ikonik itu akan segera berakhir, dan ini berarti mereka kehilangan pekerjaan," tambahnya.

General Motors mempekerjakan 828 orang di Australia dan Selandia Baru, dan sekitar 1.500 lainnya di Thailand.

Di Thailand, keputusan menjual pabrik di Rayong, yang terletak di selatan Bangkok, mungkin akan menjadi kabar baik bagi pekerja di sana.

Great Wall Motors, pabrik pembuat mobil jenis pickup dan SUV, mengatakan berniat memperluas operasinya di Asia Tenggara dengan menggunakan pabrik di Thailand sebagai markas utama. "Kami juga akan mempromosikan pengembangan rantai pasokan lokal, penelitian dan pengembangan, serta industri-industri terkait, serta memberikan lebih banyak kontribusi pada pemerintah lokal di Rayong dan sekaligus pemerintah Thailand," demikian ujar Wakil Presiden Great Wall Untuk Urusan Strategi Global, Liu Xiangshang.

Thailand masih bertekad untuk menjadi "Detroit Asia," ujar juru bicara Kementerian Industri Krichanont Iyapunya. Ditambahkannya, penutupan dan pembukaan pabrik-pabrik itu berlangsung secara hampir bersamaan. "Industri otomotif harus dapat beradaptasi," ujar Krishanont.

Sepanjang tahun lalu General Motors telah berjuang keras di Asia. Operasi internasionalnya, yang mencakup China, telah merugi hingga 200 juta dolar tahun lalu, termasuk 100 juta dolar pada kwartal keempat lalu. (VOA)

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia Baru

Posted: 18 Feb 2020 02:56 PM PST

General Motors Siap Keluar dari Thailand, Australia dan Selandia BaruWASHINGTON, LELEMUKU.COM - Keputusan General Motors (GM) untuk menarik diri dari Australia, Selandia Baru dan Thailand sebagai bagian dari strategi untuk keluar dari pasar yang tidak menghasilkan pengembalian investasi yang memadai, telah menimbulkan kekecewaan dari banyak pejabat yang khawatir akan kehilangan pekerjaan mereka.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (16/2), perusahaan itu mengatakan berencana menurunkan angka penjualan, operasi teknik dan desain untuk merk Holden yang bersejarah di Australia dan Selandia Baru pada tahun 2021. Perusahaan itu juga berencana menjual pabrik Rayong di Thailand pada Great Walls Motors China dan menarik merk Chevrolet dari Thailand pada akhir tahun ini.

"Ini merupakan keputusan yang sangat mengecewakan," ujar Karen Andrews, Menteri Urusan Industri, Sains dan Teknologi Australia. Ia mengatakan hal ini sangat disayangkan, tidak saja karena bakal ada sekitar 500 pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, tetapi juga karena "mereka hanya memberitahu pemerintah tentang keputusan ini tepat sebelum pengumuman perusahaan itu."

Dave Smith di Serikat Pekerja Manufaktur Australia juga menyampaikan kekecewaannya.

Para pekerja di Holden mengira "mereka telah melalui masa terburuk, padahal bukan itu masalahnya," ujar Smith.

"Bagi sebagian besar pekerja yang sudah lama dan setia pada perusahaan itu, mereka senang menjadi bagian dari industri mobil itu, dan kini merk mobil yang ikonik itu akan segera berakhir, dan ini berarti mereka kehilangan pekerjaan," tambahnya.

General Motors mempekerjakan 828 orang di Australia dan Selandia Baru, dan sekitar 1.500 lainnya di Thailand.

Di Thailand, keputusan menjual pabrik di Rayong, yang terletak di selatan Bangkok, mungkin akan menjadi kabar baik bagi pekerja di sana.

Great Wall Motors, pabrik pembuat mobil jenis pickup dan SUV, mengatakan berniat memperluas operasinya di Asia Tenggara dengan menggunakan pabrik di Thailand sebagai markas utama. "Kami juga akan mempromosikan pengembangan rantai pasokan lokal, penelitian dan pengembangan, serta industri-industri terkait, serta memberikan lebih banyak kontribusi pada pemerintah lokal di Rayong dan sekaligus pemerintah Thailand," demikian ujar Wakil Presiden Great Wall Untuk Urusan Strategi Global, Liu Xiangshang.

Thailand masih bertekad untuk menjadi "Detroit Asia," ujar juru bicara Kementerian Industri Krichanont Iyapunya. Ditambahkannya, penutupan dan pembukaan pabrik-pabrik itu berlangsung secara hampir bersamaan. "Industri otomotif harus dapat beradaptasi," ujar Krishanont.

Sepanjang tahun lalu General Motors telah berjuang keras di Asia. Operasi internasionalnya, yang mencakup China, telah merugi hingga 200 juta dolar tahun lalu, termasuk 100 juta dolar pada kwartal keempat lalu. (VOA)

Richardus Apalu Bana Gelar Bincang-Bincang Kamtibmas Bersama Awak Media di Polsek Tanimbar Selatan

Posted: 18 Feb 2020 02:26 AM PST

SAUMLAKI, LELEMUKU.COM – Kepolisian Sektor (Polsek) Tanimbar Selatan (Tansel) pada Kepolisian Resor (Polres) Maluku Tenggara Barat (MTB) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku menggelar kegiatan 'Bincang-Bincang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas)' bersama para awak media Tanimbar pada Selasa (18/02/2020).

Kapolsek Tansel, Richardus Apalu Bana, S.Sos., S.H., MH mengatakan bahwa kegiatan perdana yang digelar di Ruang Lobi Polsek Tansel merupakan silaturahmi untuk mempererat hubungan kemitraan dalam rangka mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas Polsek Tansel.

"Kami membuka diri sebagai mitra kemajuan pelaksanaan kepolisian dan kalau tidak ada dukungan dari rekan-rekan, maka sia-sia kerja kami. Mari kita bersama-sama melayani masyarakat Tanimbar dengan bidang tugas masing-masing," kata dia.

Bana pun mengharapkan hubungan baik yang sudah terjalin dengan para wartawan di kepulauan dengan 10 kecamatan itu dapat terus terjalin dengan baik, saling koordinasi dan mendukung satu sama lain.

"Kalau ada kekeliruan mari kita saling memberi masukan, saya juga mohon kalau ada pemberitaan tentang kinerja ataupun oknum personil kami mohon dikonfirmasi sebelum beritanya dipublikasikan. Media adalah mata dan telinga masyarakat, sehingga kami mohon dukungan agar pelayanan Polsek Tansel bisa lebih baik kedepan," harapnya.

Kegiatan tersebut berlanjut dengan bincang-bincang bersama dan tanya-jawab tentang kinerja Polsek Tansel dan sinergitas antara kepolisian dan para wartawan, yang ada di daerah tersebut. (Laura Sobuber)

Inpex Masela dan Kembali Gelar Pelatihan Pengembangan Produk Tais di Tanimbar

Posted: 17 Feb 2020 03:56 PM PST

SAUMLAKI, LELEMUKU.COM – Perusahaan Migas asal Jepang, Inpex Masela Ltd dan Bank Indonesia (BI) kembali menggelar pelatihan pengembangan produk turunan Tais atau Tenun Maluku dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar di Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan (Tansel) dan Desa Amdasa, Kecaamatan Wertamrian pada Rabu dan Kamis, 12 – 13 Februari 2020.

Special Expertise Inpex Masela Ltd, Halida Hatta berharap ke depan produk tais dapat mencetak produk-produk tenunan yang handal, berkualitas dan dapat diterima dengan baik oleh pasar serta para pengrajin juga mampu menyerap ilmu dan masukan dari pembicara dalam pelatihan tersebut, yaitu Desainer Didiet Mulyana yang merupakan perancang busana dan pemilik brad 'Ikat Indonesia' juga segudang prestasi dalam memperkenalkan tenun ikat ke kancah nasional dan internasional. Selain itu, kemampuannya menciptakan produk tenun ikat yang menyesuaikan dengan selera pasar.

"Kami sangat berharap peserta pelatihan dapat menyerap ilmu dan masukan dari Desainer Didiet Maulana yang sudah memiliki pemahaman yang panjang di industry ini. Semoga dalam waktu dekat ini kita dapat melihat sejumlah produk turunan yang dapat diterima pasar dan mengangkat kesejahteraan mama-mama penenun," harapnya di sela pelatihan tersebut kepada Lelemuku.com.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Maluku, Noviarsono Manullang mengatakan jika pihaknya selalu mendukung pengembangan produk unggulan di Maluku untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat da mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pendukung pariwisata.

"BI memiliki program local economic development dengan focus kepada lima tema pengembangan antara lain daerah perbatasan atau tertinggal. Pemberdayaan perempuan, nelayan, industry kreatif dan komoditi ekspor atau impor yang bertujuan untuk menumbuhkankembangkan pusat-pusat ekonomi baru secara berkelanjutan melalui optimalisasi sumber daya lokal," kata dia.

Pelatihan hari pertama di Saumlaki melibatkan sebanyak 60 peserta dan sebanyak 40 peserta di hari kedua yang terdiri dari para penenun dan pengrajin Tanimbar, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Komunitas orang muda, Pemerintah Daerah (Pemda) Tanimbar serta pihak-pihak lain yang diharapkan dapat membantu pengembangan tais.

Sebelumnya, pada Bulan November 2019, Inpex Masela dan BI telah mampu memproduksi Tais dengan menggunakan teknik pewarna alam yang didapatkan dari sekitar lingkungan tempat tinggal atau desa penenun. (Laura Sobuber)

Joice Fatlolon Beri Motivasi Kepada Mahasiswa di STTIMASS

Posted: 17 Feb 2020 03:56 PM PST

SAUMLAKI, LELEMUKU.COM – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Joice Fatlolon Pentury, SP memberikan motivasi dalam Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Teologi Injili Mahkota Sion Saumlaki (STTIMAS) pada Senin (10/02/2020).

Dalam kuliah tersebut Joice meminta para mahasiswa dan pelajar STTIMAS yang juga hadir untuk menghidupkan semangat perubahan dan bersyukur dengan segala kelebihan serta jangan menjadikan kekurangan sebagai hambatan atau tantangan yang bisa dilalui.

Ia pun mencontohi jalan hidup dari Bupati Tanimbar, Petrus Fatlolon, SH., MH yang juga sangat sulit pada masa kecil hingga dewasa. Fatlolon harus berupaya keras menghidupi diri sendiri dengan bekerja serabutan dari kondektur angkutan kota hingga menjadi security.

"Bapak Bupati Fatlolon dulu hidup susah, tapi itu tidak menjadi kendala untuk maju. Beliau setia melakukan hal-hal kecil dan tidak putus harapan hingga akhirnya pernah menjadi wakil rakyat di Papua dan Bupati di Tanimbar. Nah, ade-ade pasti juga bisa, jangan patah semangat tetap syukuri segala kelebihan dan mau berusaha untuk menggapai cita-cita," pinta Joice Fatlolon.

Sementara itu, Ketua STTIMASS, Yustus Elisa Orundalim, S.Pd., M.Pd mengatakan pihaknya sangat bersyukur atas kesediaan dari Ketua TP-PKK Tanimbar, Joice Fatlolon yang sudah memberikan kuliah umum dengan moto 'Terpanggil Untuk Melayani Masyarakat Tanimbar' itu.

Ia pun berharap kepada para peserta kuliah umum tersebut dapat membuka wawasan para peserta dengan lebih leluasa lagi dalam berpikir dan meraih masa depan, secara khusus dalam menyambut beroperasinya Blok Masela.

"Dari sekian bupati dan istri bupati sampai saat ini baru mengunjungi STTIMASS melalui Ibu Joice, kami ucapkan terima kasih. Kami juga tadi memberikan beberapa masukan juga terkait keberadaan kami di Tanimbar, semoga kekurangan-kekurangan, seperti gedung yang lebih layak dan anggaran mahasiswa KKN dapat dijawab," harap Orundalim. (Laura Sobuber)

31 Gempa di Tanimbar Hingga 13 Februari 2020

Posted: 17 Feb 2020 03:56 PM PST

SAUMLAKI, LELEMUKU.COM – Stasiun Geofisika Saumlaki sebagai perpanjangan tangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku memberikan pantauan aktivitas gempabumi sebanyak 31 kali dari Jumat (07/02/2020) hingga Kamis (13/02/2020) di sekitar wilayah kepulauan tersebut.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika Saumlaki, George F. A. Muabuay, S.Si., M.Sc bahwa berdasarkan magnitude terdapat 0 kejadian gempabumi dengan magnitude kecil kurang dari 3,0 SR, 10 kejadian gempabumi dengan magnitude sedang diantara 3,0 hingga 5,0 SR dan 1 kejadian gempabumi dengan magnitude besar sekitar lebih dari 5,0 SR.

Kemudian berdasarkan kedalaman terdapat 5 kejadian gempabumi dengan kedalaman dangkal kurang dari 60 km, 6 kejadian gempabumi dengan kedalaman menengah diantara 60 hingga 300 km dan 0 kejadian gempabumi dengan kedalaman diatas 300 km serta tidak ada kejadian gempabumi yang dirasakan maupun merusak.

Beberapa gempabumi yang terjadi para periode tersebut didominasi oleh gempabumi dengan kedalaman menengah. Pada umumnya gempabumi yang terjadi di sekitar Laut Banda terjadi pada kedalaman menengah hingga dalam yang diduga bersumber dari aktivitas zona subduksi di Selatan Maluku akibat pertemuan Lempeng Samudera Indonesia Australia yang menunjam terhadap Lempeng Benua Eurasia. Sedangkan untuk gempabumi dangkal dan lokal di sekitar Tanimbar diduga disebabkan oleh adanya aktivitas sesar lokal, yaitu Sesar Tanimbar. (Laura Sobuber)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya

    © 2016- Lelemuku.com is owned by PT. Batlax.com.
    Affiliated with Voice of America, VOA Indonesia, Tempo, BenarNews, Teras.id, Reuters, DW and RT

    DMCA.com Protection Status Creative Commons License

    pembaca saat ini: 0